Tidak terasa ia tumbuh, bahkan tak pernah kami sadari sepenuhnya.
Di alam pikiran kami, dia tetap seperti putra kecil kami delapan tahun yang lalu.
Bermuka polos dengan seragam putih hijau di sebuah TK Islam.
Melompat-lompat tidak pernah diam menirukan aksi Pahlawan Bertopeng, sahabat Sinchan.
Saat sarapan pagi mulutnya tidak henti membaca syair Aku Si Baju Merah atau menyanyikan lagu kesukaannya Matahari Terbenam.
Kini ia tumbuh menjadi laki-laki kecil. Usia remaja membawanya pada sebuah pencarian diri, kadang terlihat gelisah dalam ke-aku-an nya. Usia remaja juga mengenalkannya pada cinta, ia tidak lagi sibuk membaca syair di masa TK tapi kini sibuk dengan sms di hp nya.
Kami resah, belum saatnya ia mengenal cinta, kami hanya ingin melindungi dirinya. Dan suatu ketika cinta memberikan pahitnya, ia jatuh terpuruk, marah menguasai batinnya, kalut membutakan mata hatinya. Ia sakiti dirinya sendiri.
Kami tidak lagi menjadi orang yang bisa dipercaya olehnya. Kami tersentak oleh kenyataan, kepedihan hatinya membuatnya berpaling dari kami. Dalam kekalutan akhirnya tumbuh kesadaran, bahwa kami harus menghadapinya dengan sabar.
Kami sadar kesalahan sebagian besar ada pada kami. Dan ada banyak hal yang harus diperbaiki. Yang diperlukannya saat ini adalah cinta kasih kami.
Jumat, 13 Maret 2009
Awal Metamorfosa
Diposting oleh Semua Karena Cinta di 13.42
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar